Bener gak sih Tes psikotes sama dengan tes orang gila !!!
yah klo denger kata psikolog/psikiater kita sering mendengar yang namanya tes psikologi atau tes psikotes atau tes kepribadian atau kejiwaan seseorang. di satu sisi kita tak tau apakah hasil tes tersebut valid ato enggak.. karena kita gak tau yang dinilai itu yang bagian mana dan dari segi apa. kebanyakan orang yang khususnya sedang mencari kerja pasti akan dihadapkan dengan tes ini. dan orang2 cenderung lebih tegang karena dari tahun ke tahun.. pengalaman demi pengalaman orang yang melakukan ato menjalani tes tersebut banyak gagalnya daripada berhasilnya??? apa yang mendasari penilaian dari tes tersebut..?
1. Apakah kejiwaannya
2. Persiapan mentalnya
3. Ketenangan pikiran
4. Suasana hati
5. Ato whatever
yah yang jelas soal2 yang ada di dalamnya memang membikin orang sakit kepala, pusing, mumetz dan stress kaya orang gila. dimana soalnya lebih banyak dari soal2 ulangan umum, mid tes, ataupun end tes (kaya kuliah aja) :d. tapi yang jelas ketika orang mendengar yang namanya tes ini pasti akan merasa minder dulu, gugup dan bahkan ada yang sampek frustasi karena tes ini bukan tes sembarang tes yang jawabannya bisa atau sama di buku pegangan ato buku catatan. di samping itu juga jawabannya gak bisa dibuat contekan ato bahasa jermannya (baca:ngepek.red). dimana soalnya bisa lebih dari 500 soal :d ditambah lagi setiap session tes diberi batas waktu mmm kira2 kalo gak salah 6-7 menit untuk 30 - 50 soal…!!!
yah tes ini merupakan tes kejiwaan seseorang dimana kondisi mental dan pikiran seseorang sedang diuji.
klo kita liat gaya bicaranya psikolog emang susah ditebak dan arahnya gak tau dan jelas tujuannya?jadi kalo punya temen saudara ato siapapun yang profesinya jadi psikolog ato kuliah di psikolog memang rada2 gimana gitu..!! jadi jangan sampek pikiran anda terbaca oleh orang2 tersebut :d. klo orangnya baek sih gak pa2! tapi klo diluar itu bisa fatal akibatnya..
back to tes..
tes ini terdapat bermacam2 jenisnya.
1.Tes Intelektual yang terdiri dari berbagai macam
CFIT= Culture Fair Intelegence Tes ; untuk mengungkap kemampuan mental umum
TIU = Tes Intelegensi Umum ; untuk mengungkap kemampuan mental umum
TKD = Tes Kemampuan Dasar ; Untuk mengukur kemampuan dasar individu
AA = Army Alpha ; untuk mengetahui daya tangkap / daya konsentrasi orang
ADKUDAG = Administrasi dan Keuangan ; untuk mengetahui kemampuan administrasi dan keuangan
2.Tes Kepribadian
EPPS = Edwards Personal Preference schedule ; untuk mengetahui seberapa besar dorongan, kebutuhan atau motif seseorang
DAM = Draw A Man Tes (Tes Gambar Orang) ; untuk mengetahui tanggung jawab, kepercayaan diri, kestabilan dan ketahanan kerja
WARTEGG ; untuk mengetahui emosi, imajinasi, intelektual dan aktifitas subjek
KRAEPLIEN ; Untuk mengungkap ketelitian,kecepatan, kestabilan dan ketahanan kerja
RM = The Rothwell Miller ; untuk mengetahui minat seseorang terhadap jenis pekerjaan
Selebihnya konsultasi ama mbah google :d
memang klo diliat dari macamnya aja dah pusing apalagi kalo mengerjakan tambah pusing lagi :d
yang pasti klo kebanyakan mikir bisa menyebabkan anda menjadi strezz dan gila beneran..
I Hope That isn’t Happen!!! maybe..
H4rs W4r10r
cah Semarang




Saya ingin bertanya “Apa itu Tes”
Comment by Zikri handoyo — July 4, 2007 @ 9:49 am
saya rasa, psikolog bukan orang bodoh yang menggunakan tes untuk orang gila pada orang normal. untuk apa psikolog kuliah dari sarjana sampai magister kalau tidak bisa menginterpretasikan hasil tes dengan bijaksana. justru orang awam bukan, yang sering menyesatkan diri sendiri dengan pemahaman sepenggal-sepenggal mengenai psikologi, alat ukur psikologis, dan teori2 yang seharusnya tidak dipandang dari satu sudut? mitos-mitos mengenai baca pikiran dan sebagainya juga sangat bohong. menganalisa hasil pemeriksaan saja pusingnya sampai mau muntah, untuk apa psikolog iseng2 membaca2 orang disekelilingnya? dibayar juga tidak!
Comment by paris — September 6, 2007 @ 12:17 pm
bagi teman-teman yang belum begitu mengenal dunia psikologi itu seperti apa, memang biasanya melihat seorang psikolog itu seperti seorang paranormal atau dukun yang bisa melihat apa yang ada di pikiran orang lain. padahal pada kenyataannya tidak seperti itu, para psikolog bukanlah Dewa atau Tuhan yang bisa mengetahui apa yang ada di pikiran kita, mereka hanya berusaha untuk memahami kebutuhan dan sesuatu yang ada pada diri manusia seperti kemampuan intelektual atau pun kepribadian manusia. dengan keterbatasannya mereka berusaha mengukur atau melihat hal-hal yang tidak bisa dilihat secara langsung (Bukan makhluk halus, lho….), yaitu dengan membuat alat-alat pengukuran yang kita kenal dengan tes.(padahal ngga semua alat pengukuran psikologi bisa dikatakan sebagai tes yang diidentikkan dengan tes ujian, UAN atau sejenisnya lho..). lalu mengenai apakah psikotes itu sama dengan tes orang gila?? menurut saya tidak benar… yang namanya orang gila itu kan pikirannya sudah terganggu jangankan menjawab pertanyaan pada alat pengukuran psikologis, wong ngomong ja udah ga jelas arah dan tujuannya. psikotes itu banyak jenisnya ada yang ditujukan untuk tujuan klinis atau sebagai tujuan pengukuran intelektual seseorang atau bahkan untuk “meramal” atau memperkirakan perilaku seseorang di masa yang akan datang jika dia diterima di suatu perusahaan tertentu dengan melihat kecenderungan perilaku individu tersebut pada hasil tes psikologis. bahkan psikotes itu juga diberikan pada saat ujian masuk bagi calon mahasiswa pada perguruan-perguruan tinggi tertentu, jadi masak semua calon mahasiswa itu dikatakan sebagai orang gila?????? silahkan teman-teman mempersepsikan sendiri… terima kasih..
Comment by hanes — October 9, 2007 @ 2:25 pm
Teman-teman…
cuma mo urun rembug…
Tes psikologi bukan untuk mengetahui apakah orang itu gila ato gak…
ya sesuai fungsinya…
Biasanya untuk mengetahui tipe kepribadian seseorang tok..
sedangkan untuk mengetahui apakah orang itu gila ato gak, bukan psikolog orangnya tapi PSIKIATER…
bedanya, psikolog itu bukan dokter, kalo psikiater adalah dokter ahli Kejiwaan..
gitu…
dan proses gila itu dewe gak sesimple yang qta pikir selama ini…
tq…
Comment by devi — January 3, 2008 @ 5:57 am
Psikolog, yah apa boleh buat, saya dah ratusan kali psikotes gak tembus2, gagalnya selalu di EPPS, padahal saya lulusan Universitas tertua di Jogjakarta dengan IPK di atas 3,5. Contohnya untuk tes Pauli ato Kraepelin, saya dalam melihat angka2 selalu lama mengamatinya, karena saya sebagai lulusan Teknik Mesin selalu menginterpretasikan suatu angka, karena engineering bukanlah hanya angka2 yang gak ada artinya, semua diukur berdasarkan besaran fisis. Tapi saya klo masalah ngitung soal cerita selalu lebih cepat, kadang hanya butuh waktu seperempat waktu total.Saya bingung nih sekarang, dah mentok. Yah terpaksa wiraswasta sekarang, jadi pedagang. Misalnya gambar, saya udah bagus2 gambarnya, sampe temen saya bilang gambar saya seperti lukisan, bagus dan detil, terutama di Wartegg, diGambar manusia, pohon, gabungan. Hhm, alangkah susahnya hidup ini, padahal saya termasuk pembimbing teman2 saya dalam menyelesaikan skripsinya, yah dah. dagang aja kali ya.
Comment by jaim — July 24, 2008 @ 3:28 pm
Nambahin, saya sempat mau lari dan jadi opetani, soalnya bingung, ini gak tahu kemana. Dampaknya saya sekarang jadi hampir kayak orang gila, kan risih liat tes yang sama namun gagal melulu. Padahal perusahaan mesti maunya orang dihire agar bisa kerja, koq tesnya sesulit ini, misalnya kemampuan, saya pernah ngetik 2 hari dua malem kagak tidur, itu ngitung rumus2 dan teori2. Kerja fisik, saya pernah ikut kegiatan pembangunan proyek seminggu kerja kasar gak apa2. Gak tahu dah, teman saya banyak, saya bukan orang yang pendiam, tapi buktinya sekarang banyak orang yang mencibir saya, mrk bilang, ikut psikotes koq gak lolos2, padahal saya cumlaude dan dulu pernah mbimbing mereka, mereka aja lulusnya barusan, saya 1,5 tahunlebih cepat dari mereka. Dah buntu nih mau ngomong sama siapa, psikologi ini memang aturan baku dan memang seleksi, saya harus menerima kenyataan itu, saya sekarang dagang kecil-kecilan. Bukak warung kecil. Seorang sarjana teknik mesin, yang dulu jago service mesin, jago dalam tutor teori dasar dan praktek mesin, asisten, laboran, sekarang hanya menjadi pedagang kecil. Wahai para psikolog, mungkin ini dapat menjadi bahan penelitian anda2 semua, mungkinkah orang yang bodoh secara IQ dalam psikotes merupakan lulusan cumlaude. Sulitnya mencari pekerjaan sekarang ini. Beberapa bulan yang lalu saya sempat hampir bunuh diri, mau lompat dari jembatan di Yogya gara2 frustasi, lalu saya ingat kedua orangtua saya, dan waktu itu motor saya hentikan, saya menangis sambil melihat ke langit. Inikah hidup itu, kejam. Dan saya melihat ada seorang nenek tua pagi itu yang membawa barang sebegitu beratnya di punggungnya hendak dijual ke pasar. Yah, saya waktu itu merasa sangat bodoh, dan saya bertekad sampai mati. Saya ingin mengabdikan diri saya untuk membahagiakan orangtua saya yang sekarang hidup pas-pasn dan sudah lanjut usia dan pada orang2 di sekitar saya yang kurang beruntung. Tampaknya seperti cerita bohong ya, tapi dalam 4 bulan terakhir saya sudah mengerjakan 40 psikotes, dan hampir bunuh diri dua kali karenanya. Alangkah bodoh membunuh diri kita sendiri karena saya yakin dalam diri kita ada maksud indah yang memang diberikan pada kita. Ini bukan sekadar cerita, tapi sejak saat itu saya menyadari bahwa hidup itu mengalir, dan kitalah salah satu titik air dalam aliran itu. Terima kasih karena telah mendengar cerita saya.
Comment by jaim — July 24, 2008 @ 3:45 pm
Nambahin, saya sempat mau lari dan jadi opetani, soalnya bingung, ini gak tahu kemana. Dampaknya saya sekarang jadi hampir kayak orang gila, kan risih liat tes yang sama namun gagal melulu. Padahal perusahaan mesti maunya orang dihire agar bisa kerja, koq tesnya sesulit ini, misalnya kemampuan, saya pernah ngetik 2 hari dua malem kagak tidur, itu ngitung rumus2 dan teori2. Kerja fisik, saya pernah ikut kegiatan pembangunan proyek seminggu kerja kasar gak apa2. Gak tahu dah, teman saya banyak, saya bukan orang yang pendiam, tapi buktinya sekarang banyak orang yang mencibir saya, mrk bilang, ikut psikotes koq gak lolos2, padahal saya cumlaude dan dulu pernah mbimbing mereka, mereka aja lulusnya barusan, saya 1,5 tahunlebih cepat dari mereka. Dah buntu nih mau ngomong sama siapa, psikologi ini memang aturan baku dan memang seleksi, saya harus menerima kenyataan itu, saya sekarang dagang kecil-kecilan. Bukak warung kecil. Seorang sarjana teknik mesin, yang dulu jago service mesin, jago dalam tutor teori dasar dan praktek mesin, asisten, laboran, sekarang hanya menjadi pedagang kecil. Wahai para psikolog, mungkin ini dapat menjadi bahan penelitian anda2 semua, mungkinkah orang yang bodoh secara IQ dalam psikotes merupakan lulusan cumlaude. Sulitnya mencari pekerjaan sekarang ini. Beberapa bulan yang lalu saya sempat hampir bunuh diri, mau lompat dari jembatan di Yogya gara2 frustasi, lalu saya ingat kedua orangtua saya, dan waktu itu motor saya hentikan, saya menangis sambil melihat ke langit. Inikah hidup itu, kejam. Dan saya melihat ada seorang nenek tua pagi itu yang membawa barang sebegitu beratnya di punggungnya hendak dijual ke pasar. Yah, saya waktu itu merasa sangat bodoh, dan saya bertekad sampai mati. Saya ingin mengabdikan diri saya untuk membahagiakan orangtua saya yang sekarang hidup pas-pasn dan sudah lanjut usia dan pada orang2 di sekitar saya yang kurang beruntung. Tampaknya seperti cerita bohong ya, tapi dalam 4 bulan terakhir saya sudah mengerjakan 40 psikotes, dan hampir bunuh diri dua kali karenanya. Alangkah bodoh membunuh diri kita sendiri karena saya yakin dalam diri kita ada maksud indah yang memang diberikan pada kita. Ini bukan sekadar cerita, tapi sejak saat itu saya menyadari bahwa hidup itu mengalir, dan kitalah salah satu titik air dalam aliran itu. Terima kasih karena telah mendengar cerita saya.
Comment by jaim — July 24, 2008 @ 3:46 pm
Ya allah, aku yakin ada hal yang adil yang engkau turunkan untuk umatmu, usaha dan berusaha tlah kami tempuh, ya allah berikanlah petunjukmu agar langkah kami, engkau perlancar di jalanmu amien. ya allah
Comment by Ara — August 9, 2008 @ 12:10 pm
rekans, Ilmu psikologi tuh menarik banget loh.. saya dari S1 hingga S2 kemarin mendalami ilmu itu, benar2 menarik dan membuat saya makni sadar bahwa seseorang itu ga bisa hanya dinilai dari tampilan luarsemata, cara bicaranya n tebak2 lainnya. Tes psikologi gunanya untuk memastikan the right man on the right place ketika dia bekerja, belum tentu elo lulusan teknik mesin cocok bekerja di bidang yang sama coz ternyata elo bukan orang yang cocok bekerja dlm ruangan kantor misalnya tapi cocoknya sih di outdoor. So, jika kita masih memiliki sedikit pemahaman tentang suatu ilmu, alangkah bijaksananya jika kita banyak sharing ama orang yang emang terjun di dalam bidang yang baru kita pahami tersebut supaya lebih wise gitu kalo punya persepsi.
Comment by Nissa — August 14, 2008 @ 2:56 am
tambahan sharing:
Menjadi pedagang atau wirausaha bukanlah sebuah keterpaksaan. dulu gue juga memiliki pemahaman yang sama dengan orang-orang kebanyakan bahwa pedagang itu kelas buangan dan ga ada elit2nya. jadi manager di perusahaan ternama apalagi asing adalh impian gue. tapi suatu ketika gue mendapt pencerahan dan akhirnya gue sadar kalo pemahaman gue itu keliru banget. maybe itu adalah efek feodalisme pendidikan di indonesia sehingga paradigma masyarakat masih mengedepankan gengsi bukan contentnya. Sekarang selain jadi psikolog saya juga menjadi entrepreneur meskipun mash skala mikro banget. tapi gue bangga karena dengan menerjuni ukm dan mau jadi entrepreneur berarti gue bisa buka lap.kerja buat orang lain n ngurangin pengangguran. berarti eksistensi gue bermanfaat ya buat orang lain? lagian, penghasilannya bisa lebih gede tuh daripada jadi manager di perusahaan lain.
So, jangan pernah merasa malu menjadi pedagang, dan bukan karyawan. Dengan menjadi pedagang ato wiraswasta berarti elo adalah orang yang mengedepankan makna eksistensi lo buat orang lain dan bukan hanya buat diri sendiri.
Dinuriza Lauzi, M.Psi
Comment by Nissa — August 14, 2008 @ 3:16 am
kuliah di psikolog itu gampang-gampang susah so qt harus pinter2 ngomong n qt harus pinter itung2an cz qt harus ngitung tu namanya choring…wah kalo ampe salah satunya salah jd ga valid trz gimana nich nasib tu orang2 yang salah jadi bener n bener jadi salah…
yup tapi mempelajari karakter orang tu bikin qt bisa liat diri sendiri yang katanya manusia itu emang diturunkan mirip 7 orang di dkt qt emang bener2 terjadi gt dech
okeh tetep semangat yap buat qm kuliah di psikologi….sukses dech…sukses buat qt semua….
Comment by ninda — August 18, 2008 @ 2:06 pm
La9i 9a’ pengen coment apa”…
tapi yang jelas saya lagi cari tau banyak hal tentang tes kepribadian Rorscharch and wartegg,,,
bagi temen” yang bisa bantu,, mohon bantuannya ya…
mkcy…
;)
Comment by vHia — September 9, 2008 @ 9:28 am
emang bener. Gw berkali-kali ikut psikotest. Tapi berkali-kali itu jugagw gagal. Kalau test TPA or logika gw masih bisa and sering lolos. Tapi kalau test Kepribadian, gw selalu gagal. Gw engga ngerti bagaimana cara mempelajarinya and bagaimana formulanya supaya lolos. Gw hampir2 aja putus asa ma yang namanya test kepribadian yang pertanyaannya aneh2.
Kalau ada info tentang psikotest please email me at:
zalistrugle@gmail.com
Comment by zali — September 11, 2008 @ 10:23 am
saya setuju banget tuh sama temen-temen yang bilang kalo ilmu psikologi bukan cuma untuk mengukur “kegilaan” seseorang atau malah justru membuat seseorang menjadi gila beneran. hehehe. kalo menurut saya, seandainya seseorang tidak lolos2 dalam psikotes, bukan karena orang itu bodoh atau apalah, tetapi mungkin kriteria yang dibutuhkan dalam suatu pekerjaan tidak sesuai dengan kemampuan anda. contohnya, bila suatu perusahaan mensyaratkan calon pegawainya untuk memiliki ketelitian yang tinggi, anda akan diberikan tes yang memang mengukur ketelitian, tidak hanya mengukur kemampuan anda. bisa saja anda memiliki IQ yang tinggi tetapi anda kurang teliti dalam mengerjakan soal sehingga banyak yang terlewat atau salah menilai. dalam kasus lain, apabila anda diberikan tes kepribadian tetapi seringkali tidak lolos, mungkin karena karakteristik kepribadian yang anda miliki tidak sesuai dengan apa yang dibutuhkan dalam pekerjaan tersebut. contohnya, bila suatu pekerjaan menuntut sikap yang tenang dan hati-hati tetapi ternyata ketika tes terlihat bahwa anda merupakan seseorang yang pencemas atau gugup, anda mungkin tidak akan lolos. yang perlu ditekankan disini adalah pemberian tes psikologi bukan bertujuan untuk mempersulit calon pegawai, tetapi untuk meramalkan kesuksesan seseorang dalam suatu bidang di masa yang akan datang, dan disitu dilihat juga apakah anda dapat cocok bekerja di bidang tersebut. Jadi, terkadang tidak hanya dibutuhkan IQ yang tinggi, cumlaude, dsb. kesalahan dalam pemilihan pegawai dapat berdampak buruk bagi perusahaan (dengan kerugian, dsb), serta bagi anda sendiri karena bila pekerjaan tsb tidak cocok dengan diri anda mungkin kinerja anda tidak akan maksimal. menurut saya pribadi sih, anda jangan menyerah atau bahkan takut duluan sebelum menjalani psikotes, yang terpenting berusaha sebaik-baiknya dan menjadi diri anda sendiri ketika menjalani tes.. jadi, semoga berhasil!
Comment by jadi pingin nimbrung — October 15, 2008 @ 4:59 pm
q gak tau apakah q trmasuk waras atw gaK. swlnya skr q menderita skizofrenik. bagi kalian yg tau obatny tolong yaaaaa….. please…. q mnderita bgt.q udh bosan hidup.
Comment by kiky — October 27, 2008 @ 2:03 am
Pengen nimbrung juga nih. Saya juga termasuk seorang yang beranggapan bahwa psikotes untuk rekrutmen itu shrink crap, bohong besar kalo seseorang bisa menilai seluruh kepribadian kita hanya dengan perjumpaan sepuluh menit atau setengah jam mengerjakan soal…
Karena nggak mau gagal dalam jebakan shrink crap itu, saya suka mempersiapkan diri sebelum ujian. Buat nickname ‘jaim’, coba cari literatur ttg tafsir tes House Tree Person (setelah dapet itu saya jadi hati-hati gambarnya, harus simple dan clean cut, menghindari gambar akar yg terlihat dari tanah transparan, patahan cabang pohon, daun gugur etc). Apa yang anda gambar adalah proyeksi kepribadian dan keluarga anda. Untuk tes wartegg, kembangkan setiap gambar menjadi suatu benda yang berhubungan dengan kerja (jam, laptop, document keeper, bolpoin, dll) karena percaya gak percaya, tes itu mengukur motivasi kerja. Tes EPPS menilai 15 kecenderungan kebutuhan manusia. Coba google untuk jenis-jenis psikotes yang lain. Kalau anda tahu apa yang akan diukur, pasti anda tidak clueless dan bisa lebih konsen mengerjakannya. Tidak merasa dijebak.
Emang rada gak masuk akal. Satu-satunya counter yang bisa dilakukan manusia biasa adalah : berpikirlah sebagaimana orang yang akan menilai anda, dan kalahkan semua psikolog arogan itu. Nyahahaha!
Comment by mya — October 27, 2008 @ 6:17 am
Yah gmana ya…..? minggu kemaren gue udah ikutan psikotes di perusahaan idaman gue, tp gue masih bmbang alias h2c, gmn ya hsl na, cos, stlh tes yg ke 1, yaitu kraepelin ampe 6 gue rasa melalui dg enjoyable kali. ini ni gue nanya aja ya……
kalo grafik kita tinggi , rendah , trus tinggi lagi dari semula pertanda apakah itu bg ku…? kalo ada yg bisa jwb tulung ya……, bimbang nihhhhhhhhhhh….,please yahhhhh…., Thanks b 4
Comment by fiq — October 29, 2008 @ 2:21 am
Tandanya nggak konsisten, hehehe. Kalo nggak salah, hasil tes yang bagus itu grafiknya stabil, berarti tingkat konsentrasi dan perhatian tinggi. Tes yang ini bikin pusing ya…
Comment by mya — November 5, 2008 @ 6:08 am
Psikotes adalah “Tes yg hanya buang2 waktu saja tanpa jelas manfaatnya.”
Semu, dan tidak bisa dijadikan tolak ukur mutlak untuk menilai kepribadian seseorang. Sungguh hanya untuk menjadi seonggok “karyawan” saja saat ini semakin dipersulit dengan psikotest yg ga jelas.
Bagi para psikolog, sungguh tidak usah kalian berbangga hati dengan ilmu kalian. Kami orang2 terbaik lulusan teknik, dimana apa yg kami pelajari adalah ilmu pasti, bukan teori, rancu, dan semu seperti apa yg kalian pelajari.
Untuk Jaim, sabar kawan. Kamu tidak sendiri, kita dan teman-teman lain yg belum lulus psikotest bukan berarti jiwa kita labil. Kita cukup bangga sebagai seorang “Sarjana Teknik” dimana apa yg kita pelajari berguna untuk mayarakat.
Untuk para teman2 psikolog, maaf jika tersinggung dengan ucapan saya. Tetapi kalian memang tidak berguna.
Maaf.
Comment by zaza — November 12, 2008 @ 12:37 pm
Iya sich dari pada pusing mending klik nih:
http://www.AWSurveys.com/HomeMain.cfm?RefID=RockEinstein
Comment by Fikenstein — May 1, 2009 @ 8:12 am
Maaf ya sebelumnya, saya tidak mengetahui hal2 psikologi,dan saya juga tidak mengutuk psikotes di perusahaan apalagi seorang psikolog/psikiater.
tapi kok saya merasa ada yang marah ya sama dunia??
saya rasa inti dari semuanya kita introspeksi aja deh..
saya sudah punya banyak pengalaman bekerja sebelumnya, sebagai s1 teknik informatika dengan ipk pas pasan (ah malunya..)jujur saja saya mendapatkan semua pekerjaan itu dengan networking yang saya miliki (terima kasih teman teman ^^) kemudian di ikuti dengan referensi perusahaan. jadi yah saya belum pernah melewati suatu psikotes ketika mendapatkan pekerjaan2 tersebut.
saya akui saat itu saya terlalu arogan untuk bersyukur atas apa yang saya miliki(dengan pendapatan alhamdullilah diatas rata2 orang kebanyakan),hasilnya sekarang saya melepaskan semua yang saya miliki demi yang saya sebut harga diri.
cukup lama juga sih untuk sadar bahwa saya menyesalinya…tapi toh saya tidak pernah suka membahas masa lalu.belajar dari kesalahan sudah,sekarang tinggal cari solusinya pikir saya..
kali ini saya coba untuk lamar sana sini entry level pun saya sikat, tanpa referensi teman2,dan mengikuti psikotes perusahaan2 yang terasa sangat baru bagi saya.kalau menurut pendapat saya yg awam gimana ya.. saya sih nggak keberatan dengan suatu psikotes tersebut walaupun saya tidak lolos untuk mendapatkan perusahaan dan pekerjaan idaman saya itu,yah nggak kenapa napalah,belum rejeki pikir saya.saya yakin bangetlah pekerjaan itu kan rejeki.saya tau yang satu2nya saya miliki cuma semangat.semangat itu saya pakai untuk berusaha terus,sekeras mungkin tiada henti-hentinya.saya sih sudah bertekad, saya cuma tidak mau jadi seonggok daging dan tulang yang tidak berguna di dunia ini,jadi apapun okee deh.. asal berguna! pada praktiknya hal tersebut memang sulit buat dijalani.siapa yang tidak butuh makan?siapa yang tidak mau membahagiakan orang tua dengan materi?siapa yang tidak butuh pengakuan?dan siapa yang kuat dengan godaan godaan diluar sana yang semakin berkilauan?kita semua butuh kan??(Oh my,sampai saat ini saya belum dpt pekerjaan juga hiks…) oleh karena itu pasti banyak hal hal yang akan membuat kita down,menangis,dan merasa tidak bersyukur akan hidup ini.. saya berusaha berkali kali meyakinkan diri saya bahwa saya sedang diuji tuhan.. tapi skali lagi, apa pribadi yang saya miliki paling kuat selain semangat?saya toh yakin saya pantas mendapatkan apa yang saya cita citakan, saya merasa nggak bodoh,saya merasa nggak jelek, dan baik baik saja.banyak hal yang harus nya saya syukuri.. jadi apa aja oke deh,saya brusaha lebih aware lagi dengan keadaan sekitar supaya bisa berguna walaupun sekecil apapun,bantu ibu cuci piring kek,jadi pedagang kek, bantu temen kek… apa aja deh,asal gak bengong. tapi psikotes 50 kali juga saya mau kok melakukannya.asal itu worth it!(utk transportnya pinter2 deh sy muter otak kalo 50 kali ^^)saya nggak mau ah dikalahkan ama psikotes, yah seapes apesnya kalo nggak diterima juga ya harus mikir… kalau kita memang pinter kita pasti tidak akan menyerah dan mencari peluang peluang lain.dan satu hal,jangan pernah lupa untuk memberikan diri kita sepenuhnya pada pencipta kita,insyallah keadaan sulit seperti apapun bisa damai hati kita.
sesorang telah mengirimkan sms ini kepada saya:
“the journey as similar to going through the maze,you cant see the final destination.its a matter of moving forward,trusting that god is leading you according to his purpose. No eye has seen, no ear has heard, no mind has conceived what god has prepare for those who love him.”
dan sy berterima kasih pd teman sy itu mengirimkan smsnya pada saat yang tepat.
Mudah-mudah cerita saya sedikit banyaknya membantu orang lain,sekedar share aja,setidaknya saya sendiri merasa terbantu karena bisa numpang curhat disini (tanpa psikolog) hehehe (^_^)
Comment by Strider — May 20, 2009 @ 10:46 am
Buseeeeeeeeeeet gila-gilaaaaaaaaaa
semua telah terbelenggu tersesat dengan psikotes semacam ini.bayangin aja belum menghadapapi aja pikiran udah bingung.
the spirit carees on aja
Comment by Ricky — June 29, 2009 @ 4:37 am
saya mau tanya nih sebetulnya psikotes apa bener2 akurat digunakan untuk penerimaan pegawai yang dibutuhkan perusahaan tersebut. apa gak ada tingkat keeror-an
Comment by day — July 14, 2009 @ 9:43 am
psikologh tuh bukan peramal.. jadi santai aja deket” sama psikologh,, karena pekerjaan psikologh bukan untuk ngebaca orang.. hahahaha.. kayanya ga ada kerjaan banged sih buat psikologh baca” orang.. kl mau di baca, kirim aja sms” reg spasi bla bla bla..
psikotes itu berguna,, ga cuman nilai kepribadian tapi ada banyak hal juga yang bisa diliat,, kaya potensi dll.. dan ga mungkin ngerjain psikotes hanya setengah jam.. kl bisa setengah jam,, itu jelas namanya buang” waktu dan ga ada hasil.. karena ngerjainnya pasti asal”an..
Comment by LIa — August 16, 2009 @ 10:30 am