<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress/1.5.1-alpha" -->
<rss version="2.0" 
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
<channel>
	<title>Comments on: Tes Psikotes = Tes Orang Gila</title>
	<link>http://h4rs.blogsome.com/2007/05/14/tes-psikotes-tes-orang-gila/</link>
	<description>It's Never To Late To Believes in Your Dream</description>
	<pubDate>Sat, 09 Aug 2008 01:46:39 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=1.5.1-alpha</generator>

	<item>
		<title>by: jaim</title>
		<link>http://h4rs.blogsome.com/2007/05/14/tes-psikotes-tes-orang-gila/#comment-248</link>
		<pubDate>Thu, 24 Jul 2008 15:46:45 +0100</pubDate>
		<guid>http://h4rs.blogsome.com/2007/05/14/tes-psikotes-tes-orang-gila/#comment-248</guid>
					<description>Nambahin, saya sempat mau lari dan jadi opetani, soalnya bingung, ini gak tahu kemana. Dampaknya saya sekarang jadi hampir kayak orang gila, kan risih liat tes yang sama namun gagal melulu. Padahal perusahaan mesti maunya orang dihire agar bisa kerja, koq tesnya sesulit ini, misalnya kemampuan, saya pernah ngetik 2  hari dua malem kagak tidur, itu ngitung rumus2 dan teori2. Kerja fisik, saya pernah ikut kegiatan pembangunan proyek seminggu kerja kasar gak apa2. Gak tahu dah, teman saya banyak, saya bukan orang yang pendiam, tapi buktinya sekarang banyak orang yang mencibir saya, mrk bilang, ikut psikotes koq gak lolos2, padahal saya cumlaude dan dulu pernah mbimbing mereka, mereka aja lulusnya barusan, saya 1,5 tahunlebih cepat dari mereka. Dah buntu nih mau ngomong sama siapa, psikologi ini memang aturan baku dan memang seleksi, saya harus menerima kenyataan itu, saya sekarang dagang kecil-kecilan. Bukak warung kecil. Seorang sarjana teknik mesin, yang dulu jago service mesin, jago dalam tutor teori dasar dan praktek mesin, asisten, laboran, sekarang hanya menjadi pedagang kecil. Wahai para psikolog, mungkin ini dapat menjadi bahan penelitian anda2 semua, mungkinkah orang yang bodoh secara IQ dalam psikotes merupakan lulusan cumlaude. Sulitnya mencari pekerjaan sekarang ini. Beberapa bulan yang lalu saya sempat hampir bunuh diri, mau lompat dari jembatan di Yogya gara2 frustasi, lalu saya ingat kedua orangtua saya, dan waktu itu motor saya hentikan, saya menangis sambil melihat ke langit. Inikah hidup itu, kejam. Dan saya melihat ada seorang nenek tua pagi itu yang membawa barang sebegitu beratnya di punggungnya hendak dijual ke pasar. Yah, saya waktu itu merasa sangat bodoh, dan saya bertekad sampai mati. Saya ingin mengabdikan diri saya untuk membahagiakan orangtua saya yang sekarang hidup pas-pasn dan sudah lanjut usia dan pada orang2 di sekitar saya yang kurang beruntung. Tampaknya seperti cerita bohong ya, tapi dalam 4 bulan terakhir saya sudah mengerjakan 40 psikotes, dan hampir bunuh diri dua kali karenanya. Alangkah bodoh membunuh diri kita sendiri karena saya yakin dalam diri kita ada maksud indah yang memang diberikan pada kita. Ini bukan sekadar cerita, tapi sejak saat itu saya menyadari bahwa hidup itu mengalir, dan kitalah salah satu titik air dalam aliran itu. Terima kasih karena telah mendengar cerita saya.</description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>Nambahin, saya sempat mau lari dan jadi opetani, soalnya bingung, ini gak tahu kemana. Dampaknya saya sekarang jadi hampir kayak orang gila, kan risih liat tes yang sama namun gagal melulu. Padahal perusahaan mesti maunya orang dihire agar bisa kerja, koq tesnya sesulit ini, misalnya kemampuan, saya pernah ngetik 2  hari dua malem kagak tidur, itu ngitung rumus2 dan teori2. Kerja fisik, saya pernah ikut kegiatan pembangunan proyek seminggu kerja kasar gak apa2. Gak tahu dah, teman saya banyak, saya bukan orang yang pendiam, tapi buktinya sekarang banyak orang yang mencibir saya, mrk bilang, ikut psikotes koq gak lolos2, padahal saya cumlaude dan dulu pernah mbimbing mereka, mereka aja lulusnya barusan, saya 1,5 tahunlebih cepat dari mereka. Dah buntu nih mau ngomong sama siapa, psikologi ini memang aturan baku dan memang seleksi, saya harus menerima kenyataan itu, saya sekarang dagang kecil-kecilan. Bukak warung kecil. Seorang sarjana teknik mesin, yang dulu jago service mesin, jago dalam tutor teori dasar dan praktek mesin, asisten, laboran, sekarang hanya menjadi pedagang kecil. Wahai para psikolog, mungkin ini dapat menjadi bahan penelitian anda2 semua, mungkinkah orang yang bodoh secara IQ dalam psikotes merupakan lulusan cumlaude. Sulitnya mencari pekerjaan sekarang ini. Beberapa bulan yang lalu saya sempat hampir bunuh diri, mau lompat dari jembatan di Yogya gara2 frustasi, lalu saya ingat kedua orangtua saya, dan waktu itu motor saya hentikan, saya menangis sambil melihat ke langit. Inikah hidup itu, kejam. Dan saya melihat ada seorang nenek tua pagi itu yang membawa barang sebegitu beratnya di punggungnya hendak dijual ke pasar. Yah, saya waktu itu merasa sangat bodoh, dan saya bertekad sampai mati. Saya ingin mengabdikan diri saya untuk membahagiakan orangtua saya yang sekarang hidup pas-pasn dan sudah lanjut usia dan pada orang2 di sekitar saya yang kurang beruntung. Tampaknya seperti cerita bohong ya, tapi dalam 4 bulan terakhir saya sudah mengerjakan 40 psikotes, dan hampir bunuh diri dua kali karenanya. Alangkah bodoh membunuh diri kita sendiri karena saya yakin dalam diri kita ada maksud indah yang memang diberikan pada kita. Ini bukan sekadar cerita, tapi sejak saat itu saya menyadari bahwa hidup itu mengalir, dan kitalah salah satu titik air dalam aliran itu. Terima kasih karena telah mendengar cerita saya.
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: jaim</title>
		<link>http://h4rs.blogsome.com/2007/05/14/tes-psikotes-tes-orang-gila/#comment-247</link>
		<pubDate>Thu, 24 Jul 2008 15:45:54 +0100</pubDate>
		<guid>http://h4rs.blogsome.com/2007/05/14/tes-psikotes-tes-orang-gila/#comment-247</guid>
					<description>Nambahin, saya sempat mau lari dan jadi opetani, soalnya bingung, ini gak tahu kemana. Dampaknya saya sekarang jadi hampir kayak orang gila, kan risih liat tes yang sama namun gagal melulu. Padahal perusahaan mesti maunya orang dihire agar bisa kerja, koq tesnya sesulit ini, misalnya kemampuan, saya pernah ngetik 2  hari dua malem kagak tidur, itu ngitung rumus2 dan teori2. Kerja fisik, saya pernah ikut kegiatan pembangunan proyek seminggu kerja kasar gak apa2. Gak tahu dah, teman saya banyak, saya bukan orang yang pendiam, tapi buktinya sekarang banyak orang yang mencibir saya, mrk bilang, ikut psikotes koq gak lolos2, padahal saya cumlaude dan dulu pernah mbimbing mereka, mereka aja lulusnya barusan, saya 1,5 tahunlebih cepat dari mereka. Dah buntu nih mau ngomong sama siapa, psikologi ini memang aturan baku dan memang seleksi, saya harus menerima kenyataan itu, saya sekarang dagang kecil-kecilan. Bukak warung kecil. Seorang sarjana teknik mesin, yang dulu jago service mesin, jago dalam tutor teori dasar dan praktek mesin, asisten, laboran, sekarang hanya menjadi pedagang kecil. Wahai para psikolog, mungkin ini dapat menjadi bahan penelitian anda2 semua, mungkinkah orang yang bodoh secara IQ dalam psikotes merupakan lulusan cumlaude. Sulitnya mencari pekerjaan sekarang ini. Beberapa bulan yang lalu saya sempat hampir bunuh diri, mau lompat dari jembatan di Yogya gara2 frustasi, lalu saya ingat kedua orangtua saya, dan waktu itu motor saya hentikan, saya menangis sambil melihat ke langit. Inikah hidup itu, kejam. Dan saya melihat ada seorang nenek tua pagi itu yang membawa barang sebegitu beratnya di punggungnya hendak dijual ke pasar. Yah, saya waktu itu merasa sangat bodoh, dan saya bertekad sampai mati. Saya ingin mengabdikan diri saya untuk membahagiakan orangtua saya yang sekarang hidup pas-pasn dan sudah lanjut usia dan pada orang2 di sekitar saya yang kurang beruntung. Tampaknya seperti cerita bohong ya, tapi dalam 4 bulan terakhir saya sudah mengerjakan 40 psikotes, dan hampir bunuh diri dua kali karenanya. Alangkah bodoh membunuh diri kita sendiri karena saya yakin dalam diri kita ada maksud indah yang memang diberikan pada kita. Ini bukan sekadar cerita, tapi sejak saat itu saya menyadari bahwa hidup itu mengalir, dan kitalah salah satu titik air dalam aliran itu. Terima kasih karena telah mendengar cerita saya.</description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>Nambahin, saya sempat mau lari dan jadi opetani, soalnya bingung, ini gak tahu kemana. Dampaknya saya sekarang jadi hampir kayak orang gila, kan risih liat tes yang sama namun gagal melulu. Padahal perusahaan mesti maunya orang dihire agar bisa kerja, koq tesnya sesulit ini, misalnya kemampuan, saya pernah ngetik 2  hari dua malem kagak tidur, itu ngitung rumus2 dan teori2. Kerja fisik, saya pernah ikut kegiatan pembangunan proyek seminggu kerja kasar gak apa2. Gak tahu dah, teman saya banyak, saya bukan orang yang pendiam, tapi buktinya sekarang banyak orang yang mencibir saya, mrk bilang, ikut psikotes koq gak lolos2, padahal saya cumlaude dan dulu pernah mbimbing mereka, mereka aja lulusnya barusan, saya 1,5 tahunlebih cepat dari mereka. Dah buntu nih mau ngomong sama siapa, psikologi ini memang aturan baku dan memang seleksi, saya harus menerima kenyataan itu, saya sekarang dagang kecil-kecilan. Bukak warung kecil. Seorang sarjana teknik mesin, yang dulu jago service mesin, jago dalam tutor teori dasar dan praktek mesin, asisten, laboran, sekarang hanya menjadi pedagang kecil. Wahai para psikolog, mungkin ini dapat menjadi bahan penelitian anda2 semua, mungkinkah orang yang bodoh secara IQ dalam psikotes merupakan lulusan cumlaude. Sulitnya mencari pekerjaan sekarang ini. Beberapa bulan yang lalu saya sempat hampir bunuh diri, mau lompat dari jembatan di Yogya gara2 frustasi, lalu saya ingat kedua orangtua saya, dan waktu itu motor saya hentikan, saya menangis sambil melihat ke langit. Inikah hidup itu, kejam. Dan saya melihat ada seorang nenek tua pagi itu yang membawa barang sebegitu beratnya di punggungnya hendak dijual ke pasar. Yah, saya waktu itu merasa sangat bodoh, dan saya bertekad sampai mati. Saya ingin mengabdikan diri saya untuk membahagiakan orangtua saya yang sekarang hidup pas-pasn dan sudah lanjut usia dan pada orang2 di sekitar saya yang kurang beruntung. Tampaknya seperti cerita bohong ya, tapi dalam 4 bulan terakhir saya sudah mengerjakan 40 psikotes, dan hampir bunuh diri dua kali karenanya. Alangkah bodoh membunuh diri kita sendiri karena saya yakin dalam diri kita ada maksud indah yang memang diberikan pada kita. Ini bukan sekadar cerita, tapi sejak saat itu saya menyadari bahwa hidup itu mengalir, dan kitalah salah satu titik air dalam aliran itu. Terima kasih karena telah mendengar cerita saya.
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: jaim</title>
		<link>http://h4rs.blogsome.com/2007/05/14/tes-psikotes-tes-orang-gila/#comment-246</link>
		<pubDate>Thu, 24 Jul 2008 15:28:07 +0100</pubDate>
		<guid>http://h4rs.blogsome.com/2007/05/14/tes-psikotes-tes-orang-gila/#comment-246</guid>
					<description>Psikolog, yah apa boleh buat, saya  dah ratusan kali psikotes gak tembus2, gagalnya selalu di EPPS, padahal saya lulusan Universitas tertua di Jogjakarta dengan IPK di atas 3,5. Contohnya untuk tes Pauli ato Kraepelin, saya dalam melihat angka2 selalu lama mengamatinya, karena saya sebagai lulusan Teknik Mesin selalu menginterpretasikan suatu angka, karena engineering bukanlah hanya angka2 yang gak ada artinya, semua diukur berdasarkan besaran fisis. Tapi saya klo masalah ngitung soal cerita selalu lebih cepat, kadang hanya butuh waktu seperempat waktu total.Saya bingung nih sekarang, dah mentok. Yah terpaksa wiraswasta sekarang, jadi pedagang. Misalnya gambar, saya udah bagus2 gambarnya, sampe temen saya bilang gambar saya seperti lukisan, bagus dan detil, terutama di Wartegg, diGambar manusia, pohon, gabungan. Hhm, alangkah susahnya hidup ini, padahal saya termasuk pembimbing teman2 saya dalam menyelesaikan skripsinya, yah dah. dagang aja kali ya. </description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>Psikolog, yah apa boleh buat, saya  dah ratusan kali psikotes gak tembus2, gagalnya selalu di EPPS, padahal saya lulusan Universitas tertua di Jogjakarta dengan IPK di atas 3,5. Contohnya untuk tes Pauli ato Kraepelin, saya dalam melihat angka2 selalu lama mengamatinya, karena saya sebagai lulusan Teknik Mesin selalu menginterpretasikan suatu angka, karena engineering bukanlah hanya angka2 yang gak ada artinya, semua diukur berdasarkan besaran fisis. Tapi saya klo masalah ngitung soal cerita selalu lebih cepat, kadang hanya butuh waktu seperempat waktu total.Saya bingung nih sekarang, dah mentok. Yah terpaksa wiraswasta sekarang, jadi pedagang. Misalnya gambar, saya udah bagus2 gambarnya, sampe temen saya bilang gambar saya seperti lukisan, bagus dan detil, terutama di Wartegg, diGambar manusia, pohon, gabungan. Hhm, alangkah susahnya hidup ini, padahal saya termasuk pembimbing teman2 saya dalam menyelesaikan skripsinya, yah dah. dagang aja kali ya.
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: devi</title>
		<link>http://h4rs.blogsome.com/2007/05/14/tes-psikotes-tes-orang-gila/#comment-148</link>
		<pubDate>Thu, 03 Jan 2008 05:57:30 +0000</pubDate>
		<guid>http://h4rs.blogsome.com/2007/05/14/tes-psikotes-tes-orang-gila/#comment-148</guid>
					<description>Teman-teman...
cuma mo urun rembug...
Tes psikologi bukan untuk mengetahui apakah orang itu gila ato gak...
ya sesuai fungsinya...
Biasanya untuk mengetahui tipe kepribadian seseorang tok..
sedangkan untuk mengetahui apakah orang itu gila ato gak, bukan psikolog orangnya tapi PSIKIATER...
bedanya, psikolog itu bukan dokter, kalo psikiater adalah dokter ahli Kejiwaan..
gitu...
dan proses gila itu dewe gak sesimple yang qta pikir selama ini...

tq...</description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>Teman-teman&#8230;<br />
cuma mo urun rembug&#8230;<br />
Tes psikologi bukan untuk mengetahui apakah orang itu gila ato gak&#8230;<br />
ya sesuai fungsinya&#8230;<br />
Biasanya untuk mengetahui tipe kepribadian seseorang tok..<br />
sedangkan untuk mengetahui apakah orang itu gila ato gak, bukan psikolog orangnya tapi PSIKIATER&#8230;<br />
bedanya, psikolog itu bukan dokter, kalo psikiater adalah dokter ahli Kejiwaan..<br />
gitu&#8230;<br />
dan proses gila itu dewe gak sesimple yang qta pikir selama ini&#8230;</p>
	<p>tq&#8230;
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: hanes</title>
		<link>http://h4rs.blogsome.com/2007/05/14/tes-psikotes-tes-orang-gila/#comment-122</link>
		<pubDate>Tue, 09 Oct 2007 14:25:20 +0100</pubDate>
		<guid>http://h4rs.blogsome.com/2007/05/14/tes-psikotes-tes-orang-gila/#comment-122</guid>
					<description>bagi teman-teman yang belum begitu mengenal dunia psikologi itu seperti apa, memang biasanya melihat seorang psikolog itu seperti seorang paranormal atau dukun yang bisa melihat apa yang ada di pikiran orang lain. padahal pada kenyataannya tidak seperti itu, para psikolog bukanlah Dewa atau Tuhan yang bisa mengetahui apa yang ada di pikiran kita, mereka hanya berusaha untuk memahami kebutuhan dan sesuatu yang ada pada diri manusia seperti kemampuan intelektual atau pun kepribadian manusia. dengan keterbatasannya mereka berusaha mengukur atau melihat hal-hal yang tidak bisa dilihat secara langsung (Bukan makhluk halus, lho....), yaitu dengan membuat alat-alat pengukuran yang kita kenal dengan tes.(padahal ngga semua alat pengukuran psikologi bisa dikatakan sebagai tes yang diidentikkan dengan tes ujian, UAN atau sejenisnya lho..). lalu mengenai apakah psikotes itu sama dengan tes orang gila?? menurut saya tidak benar... yang namanya orang gila itu kan pikirannya sudah terganggu jangankan menjawab pertanyaan pada alat pengukuran psikologis, wong ngomong ja udah ga jelas arah dan tujuannya. psikotes itu banyak jenisnya ada yang ditujukan untuk tujuan klinis atau sebagai tujuan pengukuran intelektual seseorang atau bahkan untuk &quot;meramal&quot; atau memperkirakan perilaku seseorang di masa yang akan datang jika dia diterima di suatu perusahaan tertentu dengan melihat kecenderungan perilaku individu tersebut pada hasil tes psikologis. bahkan psikotes itu juga diberikan pada saat ujian masuk bagi calon mahasiswa pada perguruan-perguruan tinggi tertentu, jadi masak semua calon mahasiswa itu dikatakan sebagai orang gila?????? silahkan teman-teman mempersepsikan sendiri... terima kasih..</description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>bagi teman-teman yang belum begitu mengenal dunia psikologi itu seperti apa, memang biasanya melihat seorang psikolog itu seperti seorang paranormal atau dukun yang bisa melihat apa yang ada di pikiran orang lain. padahal pada kenyataannya tidak seperti itu, para psikolog bukanlah Dewa atau Tuhan yang bisa mengetahui apa yang ada di pikiran kita, mereka hanya berusaha untuk memahami kebutuhan dan sesuatu yang ada pada diri manusia seperti kemampuan intelektual atau pun kepribadian manusia. dengan keterbatasannya mereka berusaha mengukur atau melihat hal-hal yang tidak bisa dilihat secara langsung (Bukan makhluk halus, lho&#8230;.), yaitu dengan membuat alat-alat pengukuran yang kita kenal dengan tes.(padahal ngga semua alat pengukuran psikologi bisa dikatakan sebagai tes yang diidentikkan dengan tes ujian, UAN atau sejenisnya lho..). lalu mengenai apakah psikotes itu sama dengan tes orang gila?? menurut saya tidak benar&#8230; yang namanya orang gila itu kan pikirannya sudah terganggu jangankan menjawab pertanyaan pada alat pengukuran psikologis, wong ngomong ja udah ga jelas arah dan tujuannya. psikotes itu banyak jenisnya ada yang ditujukan untuk tujuan klinis atau sebagai tujuan pengukuran intelektual seseorang atau bahkan untuk &#8220;meramal&#8221; atau memperkirakan perilaku seseorang di masa yang akan datang jika dia diterima di suatu perusahaan tertentu dengan melihat kecenderungan perilaku individu tersebut pada hasil tes psikologis. bahkan psikotes itu juga diberikan pada saat ujian masuk bagi calon mahasiswa pada perguruan-perguruan tinggi tertentu, jadi masak semua calon mahasiswa itu dikatakan sebagai orang gila?????? silahkan teman-teman mempersepsikan sendiri&#8230; terima kasih..
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: paris</title>
		<link>http://h4rs.blogsome.com/2007/05/14/tes-psikotes-tes-orang-gila/#comment-102</link>
		<pubDate>Thu, 06 Sep 2007 12:17:22 +0100</pubDate>
		<guid>http://h4rs.blogsome.com/2007/05/14/tes-psikotes-tes-orang-gila/#comment-102</guid>
					<description>saya rasa, psikolog bukan orang bodoh yang menggunakan tes untuk orang gila pada orang normal. untuk apa psikolog kuliah dari sarjana sampai magister kalau tidak bisa menginterpretasikan hasil tes dengan bijaksana. justru orang awam bukan, yang sering menyesatkan diri sendiri dengan pemahaman sepenggal-sepenggal mengenai psikologi, alat ukur psikologis, dan teori2 yang seharusnya tidak dipandang dari satu sudut? mitos-mitos mengenai baca pikiran dan sebagainya juga sangat bohong. menganalisa hasil pemeriksaan saja pusingnya sampai mau muntah, untuk apa psikolog iseng2 membaca2 orang disekelilingnya? dibayar juga tidak!</description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>saya rasa, psikolog bukan orang bodoh yang menggunakan tes untuk orang gila pada orang normal. untuk apa psikolog kuliah dari sarjana sampai magister kalau tidak bisa menginterpretasikan hasil tes dengan bijaksana. justru orang awam bukan, yang sering menyesatkan diri sendiri dengan pemahaman sepenggal-sepenggal mengenai psikologi, alat ukur psikologis, dan teori2 yang seharusnya tidak dipandang dari satu sudut? mitos-mitos mengenai baca pikiran dan sebagainya juga sangat bohong. menganalisa hasil pemeriksaan saja pusingnya sampai mau muntah, untuk apa psikolog iseng2 membaca2 orang disekelilingnya? dibayar juga tidak!
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: Zikri handoyo</title>
		<link>http://h4rs.blogsome.com/2007/05/14/tes-psikotes-tes-orang-gila/#comment-80</link>
		<pubDate>Wed, 04 Jul 2007 09:49:34 +0100</pubDate>
		<guid>http://h4rs.blogsome.com/2007/05/14/tes-psikotes-tes-orang-gila/#comment-80</guid>
					<description>Saya ingin bertanya &quot;Apa itu Tes&quot; </description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>Saya ingin bertanya &#8220;Apa itu Tes&#8221;
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
</channel>
</rss>
